Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

Ia yang Meninggalkan Percakapan untuk Sebuah Terjemahan

Gambar
Lelaki yang kutemui ini begitu usang. Ketiaknya menggamit buku segenggaman tangan, di sela itu, diselipkannya kretek semata wayang.

Lelaki yang kutemui ini tak tergesa. Padahal dihimpit sesak kawan yang lekas-lekas. Atau, mungkin sangkaanku itu terlalu mula.

Lelaki yang kutemui ini menyusun komposisi nada serupa nama filsuf asal Denmark. Kutanya tentang Kierkegaard, irit dia jawab: ah kutipan belaka yang kubuat.

Lelaki itu kutemui kesiangan, ia mengenalkan diri sebagai nelayan, tapi tak kulihat di mana ia simpan perahu dan jaring ikan.

Kepang yang Entah untuk Apa

Gambar
Seorang perempuan berkulit licin porselen mengepang rambut. Helaian serupa kumpulan ijuk sapu di pinggiran kanan-kiri pipi itu dipilin berkali. Jam-jam pertamanya masuk kantor dihabiskan buat itu, sebelum mendempul pipi dan kelopak matanya dengan bubuk berwarna, juga mengecap-ngecap bibir barangkali untuk meratakan gincu atau agar kelembabannya terjaga.


Hari itu awal mula pekan, Senin tentu saja, sudah pukul 11 dan dua jam pertamanya masuk ke tempat bekerja dilewati untuk hal-hal yang demikian. Yang perlu kau tahu, setelah itu ikatan kepang tadi dibuka. Hal kedua yang juga perlu jadi tambahan informasi buatmu, rambutnya tetap lurus tanpa nuansa keriting, bergelombang pun tidak.

Kuberitahu, ada rambut-rambut tertentu yang, memang tak bisa begitu saja berubah tekstur. Saat itu saya ingin sekali ngobrol soal ini dengannya, tapi rasanya, lebih baik menyeduh kopi saja.

Saya, memang percaya bahwa beberapa hal di muka bumi ini hadir sia-sia. Tapi untuk mengepang rambut lantas membukanya lagi, h…

Yang Dianggap Berat

Gambar
Hidup di ibukota membuat sebagian orang menjadi penghuni waktu, kami beranjak dari satu ruang ke ruang lainnya. Tanpa keinginan menetap.

Namun saya jadi cemas, ketika mulai memperlakukan ruang bukan lagi sekadar panggon transit.

Sebagai penghuni waktu, sesungguhnya saya ingin menjadikan ruang sebagai tempat transit belaka, tanpa jangkar--lazimnya berupa benda-benda, momen-momen atau bahkan orang-orang--yang lantas jadi pengikat.

Sebab, biasanya kelak jangkar berkemampuan mengubah ruang menjadi sesuatu yang lebih intim. Kalau sudah begitu, keputusan untuk pergi dari suatu ruang boleh jadi kian pelik. Menjadi gawat, jika jangkar sudah tertambat.

Tapi hidup bergerak. Tentu bisa jadi pada suatu masa, yang terjadi akan sebaliknya. Kita kembali menjadi penghuni waktu, tanpa jangkar yang turun ke dasar. Jika sudah begitu, buat apa pula berlabuh toh juga tak ada lagi itu sauh.