Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Kejengkelan yang Tak Penting-Penting Amat

Gambar
Sejak dulu, saya kerap jengkel dengan orang yang manja dan rewel. Sedikit sedikit ah uh ah uh. Ingat, suatu malam pada tahun entah saya terlibat perjalanan menonton konser dengan kawan saya, kebetulan perempuan.

Sepanjang perjalanan ia mengeluh soal jalan kaki, berkeringat, tak mau naik kendaraan umum, dan seterusnya dan sebagainya. Tapi saya tetap menghormatinya, dengan menuruti kemauannya. Sebab, malam itu ia pergi bersama saya maka harusnya saya paham bahwa tanggung jawab menemani juga menjaganya sudah di pundak.

Meski menghormati pilihannya, bukan berarti saya tak sebal. Saya, tetap jengkel dengan tabiat macam itu.

Malam ini saya kembali dipertemukan dengan yang macam begitu. Tapi kemudian saya mencoba memunculkan pemakluman, tak semua hal di atas bumi dan di bawah langit bisa sesuai dengan kehendak saya bla bla bla atau, idealnya menurut saya la la la. Toh, boleh jadi laku semacam tadi di atas muncul karena sejarah buruk di kehidupannya.

Walaupun nggak suka, saya mencoba memasang…

Racun

Gambar
Beberapa hal kelewat tak berarti jika terlalu lama dipikirkan. Saya berharap punya keahlian kurasi apa-apa dalam pikir, mana yang mestinya dibiarkan tinggal dan, mana yang dilepaskan. Menurut seorang kawan, sementara ini kesaktian saya baru tahap membangun tembok yang tak kelihatan, jangan harap dulu lah kalau soal keruwetan pikir. Itu, masih awet.

Istilah kontemporer menyebutnya baper, bawa perasaan. Lantas saya bertanya--pada diri saya sendiri--memang kapan manusia tak membawa perasaannya? Saat bekerja pun bahkan seringkali demikian bukan? Meski, semestinya tidak selalu begitu.

Saya teringat pesan pendek karib saya yang, mengingatkan tentang cara mengelola hubungan dengan orang yang beracun. Dia menyarankan agar saya menjaga jarak dari yang demikian. Racun, kata dia, kadang bagus tapi tak jarang pula membikin pertahanan lemah.

Lalu bagaimana golongan yang beracun itu? Salah satunya, kalau bagi saya, mereka yang punya mulut berbisa dan hampir pasti selalu berkomentar hal-hal buruk ba…

Ia yang Meninggalkan Percakapan untuk Sebuah Terjemahan

Gambar
Lelaki yang kutemui ini begitu usang. Ketiaknya menggamit buku segenggaman tangan, di sela itu, diselipkannya kretek semata wayang.

Lelaki yang kutemui ini tak tergesa. Padahal dihimpit sesak kawan yang lekas-lekas. Atau, mungkin sangkaanku itu terlalu mula.

Lelaki yang kutemui ini menyusun komposisi nada serupa nama filsuf asal Denmark. Kutanya tentang Kierkegaard, irit dia jawab: ah kutipan belaka yang kubuat.

Lelaki itu kutemui kesiangan, ia mengenalkan diri sebagai nelayan, tapi tak kulihat di mana ia simpan perahu dan jaring ikan.

Kepang yang Entah untuk Apa

Gambar
Seorang perempuan berkulit licin porselen mengepang rambut. Helaian serupa kumpulan ijuk sapu di pinggiran kanan-kiri pipi itu dipilin berkali. Jam-jam pertamanya masuk kantor dihabiskan buat itu, sebelum mendempul pipi dan kelopak matanya dengan bubuk berwarna, juga mengecap-ngecap bibir barangkali untuk meratakan gincu atau agar kelembabannya terjaga.


Hari itu awal mula pekan, Senin tentu saja, sudah pukul 11 dan dua jam pertamanya masuk ke tempat bekerja dilewati untuk hal-hal yang demikian. Yang perlu kau tahu, setelah itu ikatan kepang tadi dibuka. Hal kedua yang juga perlu jadi tambahan informasi buatmu, rambutnya tetap lurus tanpa nuansa keriting, bergelombang pun tidak.

Kuberitahu, ada rambut-rambut tertentu yang, memang tak bisa begitu saja berubah tekstur. Saat itu saya ingin sekali ngobrol soal ini dengannya, tapi rasanya, lebih baik menyeduh kopi saja.

Saya, memang percaya bahwa beberapa hal di muka bumi ini hadir sia-sia. Tapi untuk mengepang rambut lantas membukanya lagi, h…

Yang Dianggap Berat

Gambar
Hidup di ibukota membuat sebagian orang menjadi penghuni waktu, kami beranjak dari satu ruang ke ruang lainnya. Tanpa keinginan menetap.

Namun saya jadi cemas, ketika mulai memperlakukan ruang bukan lagi sekadar panggon transit.

Sebagai penghuni waktu, sesungguhnya saya ingin menjadikan ruang sebagai tempat transit belaka, tanpa jangkar--lazimnya berupa benda-benda, momen-momen atau bahkan orang-orang--yang lantas jadi pengikat.

Sebab, biasanya kelak jangkar berkemampuan mengubah ruang menjadi sesuatu yang lebih intim. Kalau sudah begitu, keputusan untuk pergi dari suatu ruang boleh jadi kian pelik. Menjadi gawat, jika jangkar sudah tertambat.

Tapi hidup bergerak. Tentu bisa jadi pada suatu masa, yang terjadi akan sebaliknya. Kita kembali menjadi penghuni waktu, tanpa jangkar yang turun ke dasar. Jika sudah begitu, buat apa pula berlabuh toh juga tak ada lagi itu sauh.


Rileks

Gambar
Seorang kawan memberi saya masker, bentuknya kertas menyerupai wajah dengan lubang di bagian mata dan mulut. Ini supaya rileks, kata dia. Setelah menggunakan masker, saya keramas pada empat subuh, dengan shampoo stroberi dan, hair-lotion wangi stroberi.
Sebelumnya, saat menggunakan masker pemberian kawan saya itu, saya rebahan sembari membaca dan, setelah saya pikir-pikir ini bukanlah kegiatan yang rileks. Karena kepala  rupanya masih terasa berat, pikiran kian sesak lalu pundak seperti memanggul sekarung beras. Sempat terbesit tanya, apa saya salah memilih bahan bacaan? Tapi mungkin tidak.
Saya ingin segera pulang. Yameski, akan tambah tidak rileks mungkin.
Soal rileks, rupanya cara masing-masing orang berbeda. Mestinya saya menyadari ini sejak awal. Yang sebelumnya saya pahami, rileks bagi saya adalah jalan kaki menyusuri jalur pedestrian, duduk di taman, lari sore, menonton pertunjukan atau, berbicara dengan orang-orang tertentu. Yang terakhir, di beberapa titik di sekitar tempat saya…

Sekelebat

Gambar
Selintas baca, mata bersirobok dengan tulisan yang, mengulas soal daya tahan cinta kasih sepasang manusia. Bahwa, menurut artikel itu, rasa cinta hanya tahan paling lama antara tiga hingga empat tahun. Yang membikin pasangan kekasih betah pada tahun-tahun setelahnya hanyalah komitmen dan kesetiaan. Artikel lain menyebut, dorongan seks.
Membaca itu terlintas pikiran sekaligus pertanyaan jahat, hubungan laki-laki itu dengan kekasihnya kan sudah lebih dari tiga tahun, apa tak ada keinginan berpisah dan mencari pasangan baru misalnya?
Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, kalau laki-laki itu milik saya, tentu saya akan membenci perempuan yang membatin atau menanyakan hal seperti yang saya ungkapkan tadi. Tapi kadang pikiran dan hasrat itu muncul begitu saja. Bedanya, saya mungkin pada tahap masih sanggup mengendalikan diri. Bisa karena takut melewati ‘batas’ norma yang diciptakan masyarakat atau, boleh jadi saya memang bukan perempuan yang pantas. Hahaha.
Tapi lagipula, laki-laki yang sedang s…

Aku Tahu Aku Menyebalkan

Gambar
Carla Bruni menyanyikan Chanson Triste yang, dalam Bahasa Indonesia berarti: lagu sedih. Aku tak paham makna lagu itu, lagipula buat apa aku memahami jika tanpa mengerti bahasanya pun perasaanku sudah dibuat meleleh.
Penyanyi yang juga mantan model itu melafalkan syair lagu tadi dengan tempo lambat, karena murung, lazimnya didendangkan dengan nada-nada minor.
Kau tahu, saat sedih atau sedang tak enak perasaan, seringkali aku sengaja menyetel playlist yang seirama dengan mood'ku. Memanjakan kemuraman. Atau, memperkaya perasaan.
Saat-saat seperti ini, seorang kawan kerap memintaku bercerita. Berbagilah agar sedikit ringan, kata dia. Tapi buat apa hidup ini dibiarkan kalau yang dilalui manusia justru hanya hal-hal yang ringan, pikirku saat dia mengucapkan itu.
"Ceritalah kalau kamu sedih, atau butuh pelampiasan," kata dia suatu kali setengah memohon.
Tapi ketahuilah kawanku yang budiman lagi pengertian, itu sulit bagiku. Dan, kurasa kau tahu itu. Sebab beberapa kali dalam pertem…

Lupa

Gambar
“Kau tahu, perbedaan warna robusta dan arabika?” pertanyaan yang kujawab dengan menaikkan sebelah alis.
Belakangan ini, aku mencoba menaruh perhatian pada warna kopi tiap kali akan mencecap. Arabika berwarna kecokelatan sedangkan robusta hitam, kadang ada nuansa likat legam. Kalaupun biji kopi arabika dipanggang kelewat matang, warna hasil seduhannya pun masih saja cokelat, mungkin cokelat tua tapi tidak hitam pekat.

Entah apa doronganmu, sehingga tahun lalu muncul pertanyaan itu. Aku ingin menanyakannya, tapi kan, kau sudah tak ada.

Emi, Cinta-cintaan

Gambar
Dua tangan dengan gurat otot itu menggenggam panjang selang air. Diikuti gerakan ke segala arah, air dari selang membasahi lahan yang luasnya kira-kira setengah lapangan bola.

Musim sedang kemarau, petani harus rajin menyiram lahan kalau tak mau hasil panennya buruk.

Tiba-tiba saya membayangkan tokoh Santiago dalam novel The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Santiago, nelayan tua yang masih berkeras melaut, mencari ikan. Tapi ini kali bukan di tengah arus Teluk Meksiko, melainkan di petak ladang Desa Sarongge, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Laki-laki tua itu berdiri di lahan yang ditumbuhi sayuran. Kaos putihnya belepotan tanah, menutupi seluruh lengan hingga pergelangan tangan. Celana panjangnya dilipat hingga di bawah lutut, sementara topi ia kenakan untuk melindungi kepala dari terik matahari.

Dia mestinya tak perlu lagi ke kebun sayur. Mengingat hasil dari ternak dombanya, cukup untuk membangun rumah, menghidupi anak-anaknya atau kebutuhan harian lain…