Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Rileks

Gambar
Seorang kawan memberi saya masker, bentuknya kertas menyerupai wajah dengan lubang di bagian mata dan mulut. Ini supaya rileks, kata dia. Setelah menggunakan masker, saya keramas pada empat subuh, dengan shampoo stroberi dan, hair-lotion wangi stroberi.
Sebelumnya, saat menggunakan masker pemberian kawan saya itu, saya rebahan sembari membaca dan, setelah saya pikir-pikir ini bukanlah kegiatan yang rileks. Karena kepala  rupanya masih terasa berat, pikiran kian sesak lalu pundak seperti memanggul sekarung beras. Sempat terbesit tanya, apa saya salah memilih bahan bacaan? Tapi mungkin tidak.
Saya ingin segera pulang. Yameski, akan tambah tidak rileks mungkin.
Soal rileks, rupanya cara masing-masing orang berbeda. Mestinya saya menyadari ini sejak awal. Yang sebelumnya saya pahami, rileks bagi saya adalah jalan kaki menyusuri jalur pedestrian, duduk di taman, lari sore, menonton pertunjukan atau, berbicara dengan orang-orang tertentu. Yang terakhir, di beberapa titik di sekitar tempat saya…

Sekelebat

Gambar
Selintas baca, mata bersirobok dengan tulisan yang, mengulas soal daya tahan cinta kasih sepasang manusia. Bahwa, menurut artikel itu, rasa cinta hanya tahan paling lama antara tiga hingga empat tahun. Yang membikin pasangan kekasih betah pada tahun-tahun setelahnya hanyalah komitmen dan kesetiaan. Artikel lain menyebut, dorongan seks.
Membaca itu terlintas pikiran sekaligus pertanyaan jahat, hubungan laki-laki itu dengan kekasihnya kan sudah lebih dari tiga tahun, apa tak ada keinginan berpisah dan mencari pasangan baru misalnya?
Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, kalau laki-laki itu milik saya, tentu saya akan membenci perempuan yang membatin atau menanyakan hal seperti yang saya ungkapkan tadi. Tapi kadang pikiran dan hasrat itu muncul begitu saja. Bedanya, saya mungkin pada tahap masih sanggup mengendalikan diri. Bisa karena takut melewati ‘batas’ norma yang diciptakan masyarakat atau, boleh jadi saya memang bukan perempuan yang pantas. Hahaha.
Tapi lagipula, laki-laki yang sedang s…

Aku Tahu Aku Menyebalkan

Gambar
Carla Bruni menyanyikan Chanson Triste yang, dalam Bahasa Indonesia berarti: lagu sedih. Aku tak paham makna lagu itu, lagipula buat apa aku memahami jika tanpa mengerti bahasanya pun perasaanku sudah dibuat meleleh.
Penyanyi yang juga mantan model itu melafalkan syair lagu tadi dengan tempo lambat, karena murung, lazimnya didendangkan dengan nada-nada minor.
Kau tahu, saat sedih atau sedang tak enak perasaan, seringkali aku sengaja menyetel playlist yang seirama dengan mood'ku. Memanjakan kemuraman. Atau, memperkaya perasaan.
Saat-saat seperti ini, seorang kawan kerap memintaku bercerita. Berbagilah agar sedikit ringan, kata dia. Tapi buat apa hidup ini dibiarkan kalau yang dilalui manusia justru hanya hal-hal yang ringan, pikirku saat dia mengucapkan itu.
"Ceritalah kalau kamu sedih, atau butuh pelampiasan," kata dia suatu kali setengah memohon.
Tapi ketahuilah kawanku yang budiman lagi pengertian, itu sulit bagiku. Dan, kurasa kau tahu itu. Sebab beberapa kali dalam pertem…

Lupa

Gambar
“Kau tahu, perbedaan warna robusta dan arabika?” pertanyaan yang kujawab dengan menaikkan sebelah alis.
Belakangan ini, aku mencoba menaruh perhatian pada warna kopi tiap kali akan mencecap. Arabika berwarna kecokelatan sedangkan robusta hitam, kadang ada nuansa likat legam. Kalaupun biji kopi arabika dipanggang kelewat matang, warna hasil seduhannya pun masih saja cokelat, mungkin cokelat tua tapi tidak hitam pekat.

Entah apa doronganmu, sehingga tahun lalu muncul pertanyaan itu. Aku ingin menanyakannya, tapi kan, kau sudah tak ada.

Emi, Cinta-cintaan

Gambar
Dua tangan dengan gurat otot itu menggenggam panjang selang air. Diikuti gerakan ke segala arah, air dari selang membasahi lahan yang luasnya kira-kira setengah lapangan bola.

Musim sedang kemarau, petani harus rajin menyiram lahan kalau tak mau hasil panennya buruk.

Tiba-tiba saya membayangkan tokoh Santiago dalam novel The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Santiago, nelayan tua yang masih berkeras melaut, mencari ikan. Tapi ini kali bukan di tengah arus Teluk Meksiko, melainkan di petak ladang Desa Sarongge, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Laki-laki tua itu berdiri di lahan yang ditumbuhi sayuran. Kaos putihnya belepotan tanah, menutupi seluruh lengan hingga pergelangan tangan. Celana panjangnya dilipat hingga di bawah lutut, sementara topi ia kenakan untuk melindungi kepala dari terik matahari.

Dia mestinya tak perlu lagi ke kebun sayur. Mengingat hasil dari ternak dombanya, cukup untuk membangun rumah, menghidupi anak-anaknya atau kebutuhan harian lain…