Seekor Anjing dan Bocah Penyeru

Dari perempatan jalan menuju tempat saya bekerja di Kawasan Menteng, Jakarta, seekor anjing diikat di tiang lampu taman. Pemiliknya sedang ngopi semeter dari anjing itu. Awalnya anjing putih berbulu lebat dan bertelinga seperti serigala tersebut tenang-tenang saja. Pun sang pemilik yang sedang asyik ngopi dengan gelas plastik.

Hingga, kemudian gerombolan bocah usia belasan lewat.

"Hei ada Ahok, ada Ahok!" Seru salah seorang bocah berpakaian serba putih, dengan tangan kanan memegang tongkat kayu melebihi tingginya. Bocah penyeru itu lompat berputar-putar seraya menunjuk si anjing dan, ketawa kegirangan. Meski, tak ada yang lucu dari teriakan kecil itu.

Laku pertama lantas diikuti kawan lainnya, timbullah, suara-suara kecil bersahutan memanggil-manggil nama Ahok. Sang anjing yang diseru itu keruan tak menoleh sedikitpun.

Ahok, adalah panggilan bagi Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta--kota yang kebetulan saya tinggali. Belakangan, namanya begitu banyak diulang. Baik dengan diiringi caci, ataupun juga puja-puji.

Melihat anak-anak itu tak henti menunjuk anjing sambil memekik nama Ahok, sang pemilik meletakkan kopinya. Dia bergegas melepas tali ikat dari tiang lampu dan, membawa anjing-yang-dipanggil-Ahok tadi menjauh dari gerombolan bocah.

Pemilik anjing berambut gondrong itu bersegera, langkahnya cepat, melewati rumah kaca, jalan setapak, lalu menghilang di antara kanopi pohon. Saya rasa, dia lupa dengan gelas kopinya.

Padahal boleh jadi, bocah-bocah penyeru itu hanya memanggil. Tak berniat menyakiti, sekalipun mereka membawa tongkat kayu. Sebab panggilan Ahok tadi mereka teriakkan sambil tertawa meledek. Persis seperti saat merundung kawan lain yang lebih lemah dari mereka.

Lagi pula, pikir saya, anjing putih tadi sangatlah lucu, cute, menggemaskan. Masa' sih, anak-anak itu tega menyakiti? Saya membatin, tanpa bisa menyembunyikan kerut di kening dan rasa deg-degan.

Diam-diam, cemas juga menjalari saya.

Abang pemilik anjing itu lenyap entah di mana, bersama kepanikan yang sudah kadung angslup duluan di otaknya. Boleh jadi itu karena dia menonton beberapa tayangan di televisi, tentang aksi-aksi penolakan terhadap Ahok.

Sore itu, 31 Maret 2017. Paginya, ratusan atau ribuan atau ratusan ribu orang berkumpul. Saya tak tahu persis jumlahnya. Yang saya tahu, mereka melakukan aksi hampir serupa dengan 4 November 2016 dan 2 Desember 2016, eng, dan entah tanggal berapa lagi lainnya kalau mungkin ada. Saya tidak  mengikuti.

Mereka tak ingin Ahok jadi gubernur lagi. BBC Indonesia menulis, peserta aksi itu menuntut Ahok diberhentikan sementara sebagai Gubernur Jakarta.


Mungkin saya kira, boleh pula kalau BBC Indonesia atau entah berita mana menulis juga, anjing cute tadi, saya rasa tak kenal Ahok. Dan, asal Anda tahu, si anjing juga jauh lebih menggemaskan dibanding Ahok. Hee.

Komentar

Postingan Populer