Bisa-bisanya

Kadang saya benci dan muntab dan ingin mengumpat: telek kabeh, ketika ada manusia yang kebetulan dapat jatah menjadi Suku Jawa, lalu mereka menganggap seolah kastanya lebih tinggi dibanding yang lain, lebih beradab dan berotak. Padahal, PODHO WAE REK!!

Ya, memang tidak semua begitu, sebagian saja. Dan, nggak hanya Jawa sih. Ada kelompok-kelompok tertentu yang menganggap diri dan gengnya adalah pusat tata surya, sedang yang lain hanya embuh opo.

Tapi ya, karena kebetulan saya juga Jawa, dan kasus kali ini menyangkut pula kesukuan, maka begitulah adanya.

Suatu malam dalam perjalanan pulang ke Bojonegoro, saya menggunakan kendaraan bertarif ekonomi. Untuk buruh berpenghasilan pas-pasan seperti saya, harganya memang menolong. Kalau beruntung bisa dapat seratusan ribu lebih dikit.

Maka dengan tarif begitu, saya pun tak berharap dapat pelayanan bak kelas eksekutif atau bisnis.  Tapi tak lantas karena hanya mampu membayar tarif yang demikian, manusia lain bisa berlaku seenaknya. 

Kenyataannya, tak berjalan semulus itu.

Saya harus tatag menghadapi sebagian mbak-mbak pegawai yang kemudian, judesnya bisa bikin saya murka seketika. Tapi kesaktian saya sedang dilatih, maka self-healing selalu saya coba dalam setiap kesempatan. Namaste.

Di waktu luang, saya jadi menduga, apa mungkin perlakuan itu terbentuk karena menganggap penumpang berasal dari kelas ekonomi bawah ya? Tanya saya kepada charger henpon. Charger tak menjawab.

Tentu bisa juga tidak begitu.

Menghadapi kesongongan sesama manusia, benteng pertahanan bisa ambrol. Apalagi taraf kesabaran saya belum selevel nabi² atau sahabat²nya kan ya.

Saya--atau mungkin juga Anda, paham sedang menaiki kelas ekonomi sehingga nggak neko-neko minta tetek bengek dilayani beramah-ramah seperti yang dilakukan mas dan mbak uniqlo atau indomart. Nggak.

Cukup, berlakulah selayaknya. Toh, kami juga membayar. Azzek. Ya, meski murah.

Saya juga tak berharap diperlakukan seperti pepatah entah siapa: pembeli adalah raja, nggak. As simple as, yaelah kita sesama manusia, buruh, pekerja. Elo mah juga masih digaji orang. Mestinya kan ngeh ya kalau senasib. Selama manusia lain ngga memperlakukan lo dengan kasar, nggak menyakiti lo mah ya ngapain sih lo ngejahatin orang, Mbak? Buang-buang energi.

Dan, kenapa di paragraf awal saya sebut soal Jawa, karena gini, dalam perjalanan saya kali ini, saya sebangku dengan orang timur. Saya tak bertanya apakah dia dari Flores atau Papua atau mana. Namun secara fisik menampakkan demikian. Baik dari garis wajah, rambut ataupun hidung. Meski ya, okei, tidak semua orang timur seperti yang saya temui itu ciri fisiknya. Penjelasan atau definisi orang timur ini akan kompleks kalau saya berpanjang-panjang di sini. Lebih baik Anda huhling.

Nah lalu, stigma yang melekat pada orang timur adalah brutal, urakan, kekerasan, mabuk²an dan yang nakal² lah. Padahal woiiii, Jawa juga ada yang kelakuannya macam gitu.

Jadi elo, Mbak, sebagai Jawa jangan asal melengos. Perlakukanlah lawan bicaramu dengan baik. Rasanya seketika ingin ngasih kuliah Mbaknya soal adab berbicara, tapi saya buru-buru sadar bahwa saya tak kompeten.

Jadilah, moreng-moreng di twitter dan blog.

Pandangan mbak² pramusaji ketika kami komplain soal kebocoran AC itu nggak enak, adalah ekspresi: yaudala ya lo trima aja. Sembari mengajak Mas² pramusaji yang mencoba menyelesaikan keluhan untuk pergi, seraya berkata: udah udah tinggal, sini aja. Diiringi cemberut khas pekerja yang lelah bertugas.

"Nanti teknisi kami ke sini," ucap mas-mas itu sambil berlalu mengekor ke mbak²nya. Dan, beberapa jam setelahnya--usai saya ngetwit dan berkeluh ke akun resmi kendaraan yang saya tumpangi--barulah bapak² dengan setelan jas yang menunjukkan posisi prestisius datang bersama teknisi.

Saya kemudian teringat bagaimana Mbak² asal Indonesia Timur yang sebangku dengan saya itu menawari saya makan, mengawali obrolan, dan mengamankan telepon genggam penumpang seberang kursi yang ketrocohan air AC. Lebih ramah tentu saja dari Mbak-mbak yang sesuku dengan saya tadi.

Saya masih ingat, pulang tahun lalu, saya mendapati bapak-bapak usia 60an--kali ini sama sukunya sih, Jawa--yang kena semprot, saat bertanya harga atau jenis makanan. Saya lupa. Saya, paling dongkol kalau ada anak muda berlaku kasar terhadap orang tua. Meski saya bukan penganut mahzab undak-unduk kepada Yang Tua, ya. Tapi ini kan sesederhana: lo jawab biasa ae bisa kan, Mbak?!

Ini, ngga terjadi hanya sekali ya. Makanya saya berani serampangan menyimpulkan, dari mbak-mbak ber-makeup dan berseragam itu sebagian di antaranya berkelakuan berantakan. Gossahh lo berani caci maki Awkarin deh ya!

Jadi, bisa nggak sih, melihat orang lain cukup sebagai sesama manusia?! Udah deh. Bukan suku, agama, tingkat ekonomi, latar politik atau hal² lain yang sebetulnya kan memang berlapis-lapis dan kompleks dan memang tak bisa semua seragam. Dan, elo semua juga nggak bakal tahu banyak. Guweh juga, nggak.

Sama weh lah, sama-sama dari tanah, akan kembali ke tanah juga.

Dan, saya termasuk yang percaya bahwa ngga ada mutlak-mutlakan selama masih di dunia. Lo bisa anggap lo bener atau paling baik atau paling mulia sedunia, terserah, tapi nggak ada yang bisa memastikan ukuran itu. Hanya: Ya Allah, Tuhan YME. Kalau kata SBY mah.

So, buat kalian yang merasa lebih bermoral atau lebih derajatnya atau lebih berharta atau lebih mulia atau lebih apapun sehingga menganggap rendah manusia lain, mengutip Ucok Homicide: lebok tah anyeng!

Kzl guweh. Dalam hal ini saya ingin bertanya kepada Pak Presiden dan Pak Kapolri, tapi pasti mereka sibuk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seekor Anjing dan Bocah Penyeru

Bogor ; Taman Topi dan Tugu Kujang