Mimpi


Pernahkah kau memimpikan orang yang sama dalam dua pekan berturut-turut? Dia hadir sangat dekat, menungguimu, selalu ada di mimpi malam hari. Dan, kau tak ingat kapan mula dan mengapa hal itu bisa terjadi? Apa tandanya?

Padahal orang itu, bukan siapa-siapa.

"Mungkin kau terlalu banyak memikirkan orang itu?"

Kawan bicara di depanku berusaha menerka. Antara betulan ingin menanggapi atau hanya agar kami ada bahan obrolan.

Aku kembali mengingat--apa sebab awal memimpikan orang itu, saking keras mengingat sampai-sampai ketika itu luput menunaikan ritual yang hampir pasti selalu kulakukan sebelum menyecap kopi, menghidunya.

Aku linglung. Tapi mungkin bisa juga tidak demikian.

"Tapi kamu kenal?"

"Dia kawanmu?"

Mataku menelusuri lingkar bibir gelas yang agak cemong kecokelatan, lalu mengangguk dua kali.

"Mungkin kamu jatuh cinta dengan orang itu.."

"Kau terlalu cepat menyimpulkan," kujawab sembari beranjak dari kursi, membuka jendela. Di belakang kami duduk, ada sebuah jendela 75x50 centimeter. Malam itu gerah dan, aku merasa butuh udara dari luar.

Aku mengingat, lagi. Sependek ingatan, hampir satu bulan, eh, atau dua bulan ya (?), setiap sebelum tidur aku mengira-ngira apa yang orang-dalam-mimpiku-itu lakukan. Bersama siapa dia. Nyaris, dilandasi kecurigaan. Sakit.

"Tapi apa memang memimpikan orang yang sama berkali-kali menjadi salah satu tanda jatuh cinta dengan si orang itu?" pertanyaan yang panjang dan buruk, tapi terlontar juga. Sebetulnya aku bisa saja mencari jawaban itu ke google sesaat sebelum tidur malam nanti, tanpa harus bertanya ke kawanku.

"Entah. Tapi sudah banyak artikel yang menulis itu: tanda-tanda jatuh hati dengan lawan jenis. Salah satu yang kuingat, pupil matamu membesar saat dia tiba-tiba datang. Kau merasakan itu?"

Aku hanya menggeleng. Kubalikkan tubuhku, kini menghadap ke luar jendela. Kemudian kutopangkan kedua siku ke badan jendela. Sementara jemari kiri menelusuri gelombang laut di dahiku.

Adegan Mathilda berbaring di kasur apartemen dengan Leon terduduk di sudut kamar, tiba-tiba lintas. Kepada Leon, sembari menatap langit-langit kamar, Mathilda mengungkapkan rasa yang aneh dalam dirinya, tapi ia tak yakin dengan rasa itu.

Dalam salah satu scene dari film "The Proffesional" tersebut, bocah perempuan usia belasan tahun itu mencurahkan perasaan dengan nada ragu dan seolah butuh diyakinkan: Leon, sepertinya aku jatuh cinta padamu.

Leon--lelaki yang kepalanya seperti kacang hijau dan jumlah usianya lebih banyak 20an tahun dari Mathilda itu--tercenung, sebelum kemudian bertanya dengan tone laiknya Patrick sahabat Spongebob: bagaimana kau tahu itu jatuh cinta jika kau tak pernah merasakan itu sebelumnya?

Mathilda meraba perutnya seraya berucap: aku merasakan sesuatu di sini, kemudian seluruhnya menghangat dan, rasa-rasanya selalu ada denyutan di perutku dan sekarang.... denyut itu menghilang.

Sempat terpikir, aku ingin berbicara seperti Mathilda. Tapi tidak.

Orang-dalam-mimpiku-itu bukanlah Leon. Tak seperti Leon. Aku dan orang-dalam-mimpiku-itu hanya berpaut usia panen sengon gajah. Hal lain, kebersamaanku dengan orang-dalam-mimpiku-itu tak sekerap Leon dan Mathilda, kami tak seatap.

Meski memang, kadang kami menikmati waktu bersama.

"Aku terganggu dengan mimpi itu, aku ingat Bibi Tanna," kataku kemudian memutar tubuh membelakangi bolong jendela.

"Siapa Bibi Tanna?"

Aku mengambil sesuatu dari tas. Kutunjukkan sebuah halaman dari salah satu buku yang kubaca. Tepatnya, baris-baris awal pada paragraf terakhir halaman itu. Ia lalu menyuarakan kata-kata yang kugarisbawahi dengan telunjuk.

"Dalam mimpi, apa-apa dan siapa-siapa, semua, adalah bukan apa adanya, tapi sebuah ujaran, penyampaian, pengingatan, peringatan, rekaman, perjalanan kehidupan, kenyataan."

Kalimat itu dilanjutkan dengan nasihat Bibi Tanna kepada keponakannya untuk lebih menaruh perhatian pada dunia tak nyata di malam hari, tentang bijaknya intuisi, perlunya mengingat mimpi.

Kata Bibi Tanna, semakin kita peduli dengan mimpi malam hari, ia juga akan lebih peduli padamu, lebih rajin datang mengunjungimu, lebih tak terlupa, lebih tajam jernih. Kau akan semakin mengerti apa-apa yang ada di bawah tampakan, yang di luar tampakan, makna siratan-siratan.*

Kelak, kau akan mengingat tempat-tempat di kejauhan yang belum pernah kau datangi, tapi pernah ada dalam mimpi, telah kau datangi.

"Jadi?"

"Tidak ada jadi, kita pulang," dua teguk kopi, melewati kerongkongan.





[*] Beberapa hari di sela rutinitas, saya dibayangi dengan bagian cerita dalam novel Nukila Amal (Cala Ibi), juga fragmen di novel lain oleh penulis lain, juga beberapa film. Masing-masing itu tumpang tindih dengan apa yang saya alami. Dipas-paskan mungkin. Absurd. O ya, kalimat Bibi Tanna di atas, mengutip fragmen novel Cala Ibi.

Komentar

Postingan Populer