Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

Rasa Nomor 120

Gambar

Rasa Nomor 119

Gambar
Atas nama jarak jauh dengan keluarga, saya sangat berterima kasih kepada teknologi. Terutama telepon genggam. Ia memangkas jarak sedemikian rupa. Meski kadang juga menjadikan manusia berjarak sih, memang. Namun segala sesuatu jika digunakan tepat dan pas, semuanya akan baik-baik saja. Pun dengan telepon genggam.
Ceritanya saya sedang kalut. Tak ada yang bisa saya ajak ngobrol, teman-teman saya sedang sibuk. Kekasih saya tak punya, yak curhat. Dan akhirnya saya curhat di grup whatsapp—yang isinya perempuan saja—kawan dekat di tempat memburuh. Itupun cerita tidak pol, seperti saat saya cerita lewat obrolan atau bertemu langsung.
Kemudian, saya memilih melupakan sejenak penat dengan ke Bogor, membahas sebuah prooyek bersama kawan-kawan di sana. Selesainya dari situ, saya tak langsung pulang. Duduk-duduk di tempat favorit saya, sekitaran Stasiun Cikini, hingga larut malam, masih kalut. Dan saat itu juga, karena tak tahan maka saya putuskan menelpon ibu, itu pukul 1 dini hari. Saya cerita pa…

Rasa Nomor 118

Gambar
Sebab dalam bahasa Yunani, nostos adalah kembali ke rumah/ asal dan algos adalah penderitaan. Maka perkawinan antara keduanya melahirkan nostalgia, penderitaan yang disebabkan kerinduan yang tak ada habisnya untuk kembali ke asal
Kembali ke asal, pulang.
Pulang dan rindu, dua hal yang menyebalkan. Kerap bikin saya sariawan, atau jengkel karena tak tahu bagaimana cara menahan.
Kepulangan kadang menyenangkan, karena ada yang lama dinanti kemudian datang. Tapi kadang bisa juga memilukan, karena ada yang pergi dan tak kembali. Tapi keduanya punya kesamaan, menuju ke sesuatu.
***
Saya sedang pulang, dalam arti yang sebenarnya. Kini saya sedang di rumah. Menulis di kamar saya, tak ada yang berubah dan tak banyak yang bertambah. Dari dulu, hanya sebuah almari di pojokan dengan kacanya setubuh saya, kasur yang muat ditiduri tiga orang, gitar, buku-buku dan tambahannya adalah karpet—yang masih tergulung.
Kamar saya memiliki jendela yang berseberangan dengan pintu. Jendela itu, dulu, langsung berbat…

Rasa Nomor 117

Gambar
“… Wah, Mba ini pakai jilbab tapi demenannya The Sigit.” celetuk seorang pria. Ia pemandu acara di sebuah helatan musik sekaligus bazaar anak muda. Jebolan stand up comedy, biasanya disebut komika.
Mendengar itu, reflek kening saya berkerut. Mencari hubungan antara selera musik dengan pilihan berpakaian seseorang. Apa lantas, ketika seseorang memilih mengenakan jilbab, ia harus membatasi selera musiknya, hanya dengan mendengar lagu relegius saja? Lagu relegius? Eh tunggu? Memang ada? --- Saya jadi ingat jawaban vokalis Letto, Noe saat ia ditanya: banyak yang bilang lagu Anda isinya perenungan, relegius, memang begitu ya? Putra Cak Nun menjawabnya dengan cengengesen: “… Kami tidak percaya dengan lagu religius. Kalau ada lagu religius berarti ada lagu tidak religius dong? Padahal semua hal menurut kami bisa diambil sisi religiusnya. Mau ngomong kambing sampai kotoran sapi, semuanya bisa religius juga. Bukan lagunya, tapi bagaimana kita mengambilnya”.
Saya sepakat. Tafsir sebuah lagu berga…