Rasa Nomor 93


--Tulisan ini lagi, adalah curhat. Jika tidak berkenan dengan curhatan, lebih baik ndak usah diteruskan (=

Tentang pulang dan menikah. Lagi lagi,

Umur saya 24. Setiap pulang kampung, yang ditanya adalah dua. Pertama, kapan saya kembali ke kampung, bekerja di dekat rumah? Yang kedua, kapan kamu menikah, sudah ada calon?

Saya sih sudah bebal dengan dua pertanyaan itu. Tapi bebal bukan berarti tidak risih, hehe. Tapi lumrah jika keluarga besar menanyakan itu. Bagaimana tidak, teman-teman SD saya sudah pada menikah, sudah nggendong anak. Belum teman SMP dan SMA yang sedikit demi sedikit merasa sudah siap lalu memutuskan untuk menikah. Tuhan sepertinya memang sengaja menciptakan teman dekat dan sanak famili—seperti bulik, oom, pakdhe, budhe dan lainnya itu—untuk mengemban tugas menanyai dan mengingatkan saya yang lajang ini agar segera mbojo (berpasangan). Ih wa waw.

Menikah, bagi saya bukan sekedar melengkapi sunnah rasul atau menjawab pertanyaan anggota keluarga. Menikah, lebih panjang dari itu. Awalan dari sebuah proses panjang, hidup bersama. Saya percaya, Tuhan senantiasa memberi petunjuk dan jalan menjadikan kita merasa siap. Lalu mungkin, Tuhan akan mempertemukan saya dengan orang yang tepat. Dan Tuhan takkan meninggalkan kita sendirian.

Tapi, untuk memulai berkeluarga, kadang-kadang banyak yang saya pikirkan. Tidak hanya ijab qobul lalu saya menjadi halal untuk pria yang meminang saya. Tapi pria itu harus ingat, dengan begitu, dia akan menikahi hidup saya, lebur bersama saya. Begitu juga dengan saya. Ini bukan hanya menyederhanakan dua menjadi satu. Atau menyatukan dua hal yang berbeda. Tapi bagaimana membagi hidup satu sama lain, tidak hanya membagi keberanian, tentu saja membagi segala cemas dan ketakutan.

Memang, saya nggak bisa menjamin kalau dengan menikah hidup akan lebih bahagia, enak, nyaman dan jauh dari masalah. Yatapi kayaknya sih asyik saja membayangkan membagi hidup dengan orang yang—menurut kita—tepat itu. Seru saja rasanya menghabiskan waktu dengan orang yang saya sayangi. Buat yang sudah yakin, sikat aja sih bleh, lamar itu yang kamu rasa cocok. Hihihi.

Untuk pertanyaan pertama, soal kapan saya pulang, saya belum bisa menjawab sebenarnya. Penuh kompromi itu mah. Sampai sekarang masih mikir. Panjang. Apalagi saya baru baca cerita yang sama—atau lebih tepatnya saya samasamakan—dengan apa yang saya alami. Tentang apa yang diberikan kota kelahiran saya kepada saya? Stagnasi. Kemanjaan. Pembenaran atas apapun yang saya lakukan.

Buat siapa saja yang sudah tidak ada kompromi atau konflik batin gituu. Selama masih bisa merantau, merantaulah dulu sejauh-jauhnya. Belajarlah sebanyak-banyaknya. Ambillah keberanian dari setiap sudut tempat yang kau kunjungi, dari setiap lekuk jalan yang pernah kau lalui.

Kalo saya sih memang yaaa, gimanapun juga memang harus pulang. Ke sana, Bojonegoro. Januari depan, insyaaallah saya akan pulang lagi, cuma untuk lima harian. Saya harus sering-sering mengunjungi rumah.
Mendekati rumah keluarga, berarti mendekati berbagai persoalan. Kalau dijabarkan: keluarga tempat kubangan persoalan, di luar keluarga tempat kebebasan menentukan pilihan. Penjabaran berikutnya: kalau ingin meminimalisir persoalan, jangan berkeluarga.


*Paragraf terakhir mengutip tulisan Gitanyali--yang belakangan diketahui adalah Bre Redana, wartawan senior surat kabar nasional-- dalam Blues Merbabu, hal 150.

Komentar

  1. ciee...

    "..... untuk mengemban tugas menanyai dan mengingatkan saya yang lajang ini agar segera mbojo (berpasangan). Ih wa waw...."

    ayo mbojo2... ;P

    BalasHapus
  2. baca novel cerita cinta enrico kak,kali aja terinspirasi,ayu utami aja yang dulu ngotot ga mau nikah kan akhirnya nyebur juga ke kubangan masalah :p

    BalasHapus
  3. yasiapa juga yang ngotot nggak mau nikah zaa... aku mau koookkk... ahahaha.. membingungkan ya pernyataanku di atas? :b aku nggak seberani itu.. aku manut aja sama orang rumah.. (=

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepo

Rileks