Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2012

Rasa Nomor 95

Ia tahu, hidup harus berkeringat. Kerja keras adalah kuncinya.
--Tukul Arwana dalam Majalah Tempo Edisi 05-11 Februari 2007--

Rasa Nomor 94

Rasa Nomor 93

--Tulisan ini lagi, adalah curhat. Jika tidak berkenan dengan curhatan, lebih baik ndak usah diteruskan (=
Tentang pulang dan menikah. Lagi lagi,
Umur saya 24. Setiap pulang kampung, yang ditanya adalah dua. Pertama, kapan saya kembali ke kampung, bekerja di dekat rumah? Yang kedua, kapan kamu menikah, sudah ada calon?
Saya sih sudah bebal dengan dua pertanyaan itu. Tapi bebal bukan berarti tidak risih, hehe. Tapi lumrah jika keluarga besar menanyakan itu. Bagaimana tidak, teman-teman SD saya sudah pada menikah, sudah nggendong anak. Belum teman SMP dan SMA yang sedikit demi sedikit merasa sudah siap lalu memutuskan untuk menikah. Tuhan sepertinya memang sengaja menciptakan teman dekat dan sanak famili—seperti bulik, oom, pakdhe, budhe dan lainnya itu—untuk mengemban tugas menanyai dan mengingatkan saya yang lajang ini agar segera mbojo (berpasangan). Ih wa waw.
Menikah, bagi saya bukan sekedar melengkapi sunnah rasul atau menjawab pertanyaan anggota keluarga. Menikah, lebih panjang …

Rasa Nomor 92

Besok tanggal 12 bulan 12 tahun 2012, trus kenapa?
Hari ini, di tengah kegiatan saya memburuh bersama teman saya--sebut saja kaka erik dan kaka nanda. Salah satunya tiba-tiba nyeletuk tanya, kalau besok kiamat kita mau ngapain ya enaknya? Kemudian kami diam, saya mikir, teman saya yang lain juga--dugaan saya--mikir. Lalu menyahutlah teman saya yang lain itu, dengan jawaban kepengen clubbing, alasannya dia belum pernah clubbing. Gayung pun bersambut. Teman saya lain yang bertanya itu pun ternyata segendang sepenarian dengan teman saya yang lain (hayoloh, mana ni teman sayanya. bingung ya. Nggapapa, namanya juga manusia.) :b
Percakapan itu kemudian diikuti lagi dengan ungkapan: Ah, tapi kalo besok nggak jadi kiamat gimana? uda clubbing. Dan pernyataan pun menggantung sampai di situ. Begitu juga tentunya dengan percakapan. Kami pun melanjutkan memburuh.
Saya sih nggak full paham percakapan tadi endingnya mau gimana, hihi. Pokonya kalau besok kiamat--dalam gurauan itu--mereka merencanaka…

Rasa Nomor 91