Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2012

Rasa Nomor 87

Balada membaca catatan-catatan lama... 

Entah kenapa saya ngerasa akhir-akhir ini tulisan saya agak-agak serius dan tidak menyenangkan. Ya walaupun dari dulu juga serius dan tidak menyenangkan plus membosankan sih. Hihiiihi. Tapi begini, dulu saya suka menulis tentang hujan, tentang cinta tentang gerimis tentang air atau apa yang saya lihat dari jendela, kemudian memaknainya. Mencoba menghubung-hubungkannya. Menggothak-gathukkan satu sama lain.  Ya begitulah. Lucu rasanya mengingat-ingat itu.
Apakah mungkin karena usia? Tapi saya masih muda ah, 24. Entahlah.

Saya, lupa sih bagaimana mencintai. Terakhir, saya sering sekali menyimpan rindu dalam toples, lemari, atau saya selipkan di buku yang sedang saya baca. Rindu itu untuk cinta. Karena cinta itu membawa rindu, tapi saya jadi bertanya-tanya, mungkinkah kita rindu tanpa rasa cinta sebelumnya. Saya pikir tidak. Karena tidak mungkin saya rindu dengan Ujang ketika saya tak pernah sekalipun bertemu dan berkomunikasi, memantikkan sedikit e…

Rasa Nomor 86

Rasa Nomor 85

Tentang Tenaga Kerja Wanita...

Rasa Nomor 84

Tuhan, terlampau sayang dengan gadis mungil lagi manis itu. Gendis, sore tadi dipanggil Tuhan, pukul 17.20. Tepat di waktu itu, saya ingat betul sedang melihat arloji, berpikir untuk pulang karena acara yang saya ikuti sudah selesai. Namun tak tepat waktu saya menerima kabar duka itu. Sesiang-sorean telepon genggam saya tidak dapat sinyal. Pukul 18.22 pesan pendek dari kawan saya, Wiwik baru saya terima. Isinya:
“Anaknya mas pepi meninggal, sedih :(”
Saya membalasnya, kami berbalasan tentang rasa sedih dan rencana mengunjungi keluarga Gendis. Lalu saya melanjutkan membuka milis tempat saya memburuh. Rupanya sudah banyak pesan berisi ucapan belasungkawa dan doa-doa. Saya baca, satu per satu. Selalu saya amini. Tanpa harus mengenalmu dulu, Nduk. Segala doa kami beriringan untuk damai kepulanganmu.
Berkata dan mengulang-ulang teori bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik untuk kita atau Tuhan punya rencana di balik ini semua atau Tuhan selalu tahu yang paling tepat, adalah perkara mudah.…

Rasa Nomor 83

Namanya Gendis Priscila, anak seorang kawan. Sekarang, Gendis sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur. Ada yang mengganjal saluran empedunya. Saya belum pernah ketemu Gendis, dan belum secara langsung berkenalan dengannya, pun belum main-main dengannya. Tapi saya sudah jatuh cinta dengannya, karena namanya, Gendis.
Saya membayangkan anak manis usia dua sedang bermain di teras. Tentu saja perempuan, tentu saja lincah, memainkan botol susu, belum sempurna benar duduknya, mengajak main kedua orangtuanya. Kini, anak manis yang saya bayangkan dan belum pernah saya temui itu sedang berjuang melawan semua sakitnya. Saya, tidak bisa membayangkan bagaimana melawan semuanya dengan keriangan yang ia miliki. Orangtuanya pasti sedih, tapi Gendis, entah kenapa saya yakin sekali jika tak sedikit pun ada kesedihan dalam gadis kecil itu.
Keriangan kanak-kanak membuat semuanya larut. Mungkin Gendis menangis, mungkin Gendis merengek, tapi saya percaya itu hanya fitrahnya sebagai gadis kec…

Rasa Nomer 82

Gambar
Cita-citaku Setinggi Tanah. Sebuah film besutan sutradara Eugene Panji ini tidak hanya menawarkan sebuah harapan, namun juga mengingatkan. Film ini sempat terhenti dua tahun lamanya lantaran si pemilik ide, Eugene, tidak punya dana yang cukup untuk memulai proses produksi film. Hingga pada akhirnya Danone-Aqua datang sebagai peri yang baik hati dengan tawaran biaya produksi. Alasannya, karena tujuan Eugene dan Aqua ini hampir sama, menyehatkan, membuat masyarakat Indonesia sehat lahir juga batin, begitu kata mbak-mbak manajer Aqua.
Keuntungan film ini, kata Eugene akan dipersembahkan untuk anak-anak penderita kanker di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI). Sejumlah artis senior seperti Nina Tamam, Dony Alamsyah, Agus Kuncoro dan Iwuk Tamam juga rela tak dibayar sebagai wujud dukungannya untuk donasi ini.
Apa yang terbayang saat pertama kali membaca judul film ini? Kalau saya sih, sudah kebayang: ini pasti jalan ceritanya nggak biasa. Atau mungkin yang kebayang malah pertanyaan…

Rasa Nomor 81

Rasa Nomor 80

Malam itu, Senin, saya masih ingat betul, 24 Oktober 2012. Saya ingin menulis di blog ini lewat telepon genggam saya, namun gagal. Padahal hanya satu kalimat yang ingin saya tulis malam itu, sungguh-sungguh ingin saya tulis:
Mendadak, saya mulai tidak percaya dengan apapun juga siapapun kecuali ibu saya.