Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2011

Rasa Nomer 53

MUTEB.

Gambar
Mutty Ebtessam,

Proyek Teng-Tong Family!

Gambar
Setiap orang punya proyek menulis dalam hidupnya, termasuk aku. ketika blogwalking, aku menemukan sebuah program #30harimenulis. Jujur, aku tertarik namun tak berminat mengikutinya. Karena aku menulis masih dengan mood, kadang-kadang mau dan kadang-kadang tidak. Namun lebih banyak tidaknya.Dulu, aku pernah mencoba menulis buku harian, namun hanya bertahan hingga beberapa lembar saja dan setelahnya berhenti. Ketika smp dan sma, aku masih sangat rajin menulis pada buku harian, setiap malam sebelum tidur, aku mengingat-ingat apa yang istimewa hari ini, atau apa saja yang sudah kulakukan hari ini. Namun ketika masuk kuliah, kebiasaanku ini terhenti, aku tak tahu sebabnya dan tak mencari tahu pula. Hiii.
Menulis buku harian menjadi penting sebenarnya, sederhana saja. Ketika kita sudah lewat hari-hari yang lalu, tidak menutup kemungkinan kita akan lupa kejadian-kejadian yang terangkai di dalamnya. Buku harian membantu kita menyusunnya. Karena terkadang proses berlangsung begitu cepat, kata-k…

Rasa Nomer 52

Gambar
(Gambar diambil dari sini lhoo.)

Rasa Nomer 51

Gambar
(Gambar kereta dan stasiun dicomot dari sini)

Mencintaimu, mungkin seperti menaiki kereta listrik kelas ekonomi. Menunggu kereta menyinggahi setiap stasiun yg dilewati. Sejenak atau kadang lama menjaga henti. Sedang aku, tetap menunggu waktu hingga kereta mengantarku sampai ke tempat yg hendak ku-tuju, memang tak pasti kapan akan tiba namun pasti akan sampai. Entah dua jam setengah, atau sampai tiga jam, atau lebih. kini aku takut, aku tak lagi telat sampai namun malah tak akan sampai ke sesuatu yg ingin aku tuju. Wajar bukan ketakutanku, karena bkn hanya aku yg menunggu dan menuju. Selalu ada yg seperti aku di setiap stasiun yg menghentikan lajumu.

Rasa Nomer 50

Gambar
Siang ini aku menunggu pesan pendek darimu. Balasan dari apa yang aku kirim pagi tadi. Mungkin kau sedang sibuk, mungkin juga pesanku tidak masuk, namun aku tetap menunggu. Karena kebiasaanmu adalah selalu membalas pesan pendek, dari siapapun.

Hingga sore, dan hingga malam jatuh di ujung dahiku. Tak ada jua pesan pendek darimu. Aku tak mau berpikir macam-macam, kuanggap kau lupa. Wajar, manusia. Namun janjiku dalam hati sudah terlanjur terpatri. Bahwa aku mengetuk hanya sekali, jika kau tak menjawab. Maka aku akan pergi, mungkin tak ada orang di rumahmu, atau kau sedang tak mau disinggahi. Maka kuputuskan untuk tidak bertamu lagi.

Jujur. Hingga kini aku menunggu, menunggumu untuk mengetuk pintuku. Namun kau terlalu sibuk dengan waktu dan tamu, atau mungkin pula gengsi. Dan kita sama-sama habis ditelan gengsi. Andai saja salah satu dari kita ada yang mau mengalah dengan diri sendiri, melawan gengsi. Namun ternyata tidak. Aku pun tak mau, aku sudah mengetuk. Kini giliranmu, dan aku hanya …