Rasa Nomer 29

Sudah tiga hari kau mendiamkanku, itu artinya ada yang salah denganku atau bisa jadi ada yang salah denganmu (maksutku, kau memang sedang ingin diam). Aku juga jadi enggan untuk memulai percakapan, setelah genap 28 kali kau cuek-cuek saja saat kuajak bicara (ya, aku menghitungnya. sejak kusadari tiga kali ajakanku berbicara kau abaikan). Aku sering bingung dengan tingkah lakumu, tapi aku tak ambil pusing. Banyak hal yang sudah membuatku pusing, aku tak mau menambah lagi dengan yang lainnya.

Kuputuskan untuk menulis sepucuk surat untukmu. Karena pesan pendek sudah tidak ada artinya lagi dalam hubungan kita. Aku mengirim surat esok paginya lengkap dengan perangko kilat, walaupun kita berdekatan aku sengaja menggunakan perangko kilat. Kalau kau cerdas, kau akan mengerti bahwa betapa ini menjadi suatu simbol keistimewaanmu untukku.

Aku menunggu, lama. Sejak surat itu kukirim, aku tak pernah lagi melihatmu. Aku jadi berpikir apakah penyebab menghilangmu adalah karena suratku? atau suratku sampai setelah kamu menghilang? atau kamu memang ingin menghilang tanpa ataupun dengan hadirnya suratku? atau atau-atau yang lain? Kali ini aku ambil pusing tentang kepergianmu. Karena ini sudah empat minggu sejak aku mengirim surat yang tak berbalas itu. Minggu pertama aku berusaha tenang tanpa kabar darimu, minggu kedua aku mulai mencari informasi tentangmu, minggu ketiga kepanikanku tak bisa lagi ditutupi, dan minggu keempat aku tak bisa tidak memikirkanmu, lalu sekarang kepanikan semakin akrab bercampur ketakutan yang kian tak karuan.

Kemana kamu? :o

(pic by me, retouched by me, lokasi : jalan samping fema ipb)

Komentar

  1. seperti nano-nano... ada lebih dari 4 rasa hi.hi.hi..

    BalasHapus
  2. seperti smash yang cenat-senut.. hahaha xD

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepo