Rasa Nomer 28

Kepada telepon seluler aku senang bercerita, tentang jendela yang baru saja kubuka dan tentang kicau burung yang sudah tak ada. Tombol-tombol kecilnya mengingatkan aku bahwa ada banyak ragam dalam 12 kesamaan. Sewaktu aku menekanmu satu per satu sedang mengalirlah nada-nada dari seorang wanita yang asik bercerita tentang seorang nelayan. Kou Kou nama nelayan itu. Aku pun tak mau kalah, kupacu terus langkah jariku untuk bercerita tentang nelayan yang sukses menjaring hatiku, kamu.

Aku memimpikanmu jauh sebelum aku bertemu denganmu. Apakah ini namanya? Aku tak bisa menyebutnya stimulus pikiran, karena sama sekali sebelumnya aku tidak memikirkanmu. Aku telah mengenalmu, tapi tak kenal baik, sebaik perempuan jelita itu mengenalmu, dan mengirimkan beberapa kalimat manja padamu. Hihihii, kalimat sebelum ini terdengar sentimentil ya, hek.


Baru sekarang, baru akhir-akhir ini kuingat lagi bahwa jauh sebelum aku mengenalmu lebih dekat, aku telah bermimpi tentangmu. Tentang kemesraan kita. Tentang pelukanmu yang berusaha merontokkan rindu-rindu, dan tentang ciuman yang entah apa artinya itu. Kepada mimpi kini aku hendak bertanya,


“Apakah Tuhan mengirimkanmu sebagai tanda?"


“Ah tidak.. Mungkin itu cuma perasaan dhek ika sajaaa.. ;))”


Begitu jawab mimpi ya
ng kemudian kubalas dengan rapal doa-doa. Doa apa saja, untuk kebaikan kita berdua :)

(pic by me || talent : ika. hihihi ;p)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepo