Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Rasa Nomer 8

Hahh, padahal aku nggak bisa nulis... tapi disuruh nulis aja dong ini. Tiap kali aku nulis kan pake perasaan... mana bisa sekarang aku nulis liputan. Hm... bukan mana bisa sih, rada sulit kali ya. Apalagi tulisanku ini dibaca orang, aku kan nggak pernah suka atau lebih tepatnya malu kalo tulisanku baca orang. Aku kurang bisa memadu-madankan kata :O

ohmaigatttt.. dan sekarang aku disuruh bikin tulisan tentang nada khatulistiwa. Hngee... mari mencoba. Tapi kapaaaan coba nyobanya (lha wong sampe skrg blom di tulis2 ;p). Oiya, nada khatulistiwa (macem pertunjukan musik gitu) itu salah satu acara dari rangkaian kegiatan seni dan budaya eco ethnic art festival. Acara yang sedang diadakan oleh komunitas seni yang sedang kuikuti, komunitas wahana telisik seni dan sastra :)

Sumpah dehhh… asli aku tu nggak bisa nulis. Eh ini malah disuruh bikin tulisan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ohmaigat ohmaigat, gimana coba. Kalo Cuma nulis-nulis biasa, begini aja sih nggak papa, tapi kalo unt…

Rasa Nomer 7

Gambar
Akhir-akhir ini aku sedang senang bikin-bikin semacam avatar gitu. Rasanya seperti Tuhan saja, menentukan hidungnya bagaimana matanya bagaimana warna kulitnya apa bentuk mukanya seperti apa, ehehekhek.. tapi tidak serumit ciptaan Tuhan lahh, kalau ini mah hanya gambar ;p




Sedang Tuhan menciptakan manusia dilengkapi dengan ruh, akal, emm apalagi ya.. eeng, nafsu kali ya, trus rindu, amarah, dan dengan cintaaaa ;)) belom lagi bagaimana Tuhan menciptakan yang selain manusia, belom lagi mengatur seluruh semesta belom lagi yang lain-lainnya yang di luar jangkauan kita belom lagi kehidupan setelahnya.. Tuhan semesta alam yang maha segalanya.. Tuhan yang maha tahu segala yang terbaik untukku.. *o* Tuhan yang maha tahu segala yang terbaik.. hm, Tuhanku begitu canggih, telingaNya selalu bisa mendengar bahkan ketika aku dalam diam :)

Rasa Nomer 6

Gambar

Rasa Nomer 5

Gambar
[30 oktober 2010]
Captured by ikaaku, dalam kereta menuju jogjakarta. namanya progo, membawaku dari stasiun senen menuju lempuyangan jogjakarta.

Sepanjang perjalanan, kaca jendela menjelma televisi tanpa skenario kisah cinta remaja, telenovela, dan berita selebritis ibu kota. Televisi macam ini menyuguhkan cerita segelintir manusia yang berusaha membangun kebahagiaan. mereka menempuh berbagai cara untuk membangun kemudian melestarikan kebahagiaan. Sungguh.

Mereka meletakkan pagi di ujung padi. Mencangkul harapan, agar bertambah subur. Mereka menjaring asa dari kali desanya. Dan kulihat mereka gigih mengayuh cita melewati jalan penuh lubang dan genang air.

Betapa aku kalah jauh dengan mereka. Eeeng, lalu tanyaku pada diriku sendiri. bagaimanakah caraku membangun kebahagiaan kemudian melestarikannya? :oCaptured by ika