Postingan

Minum Kopi dan Alasan yang Dibuat-buat

Gambar
Kadang, memilih jenis kopi itu bukan perkara kita — atau dalam hal ini saya — saat itu sedang berhasrat dengan biji kopi tertentu.
Beberapa kali saya menjatuhkan pilihan untuk minum kopi anu atau ini dengan alasan yang tidak masuk akal. Bolehlah disebut, konyol.
Misalnya, pernah suatu ketika, hanya karena saat itu saya sedang ingin ditemani oleh seseorang. Namun orang itu tidak bisa hadir, maka saya pikir tak ada salahnya kalau mengganti absennya orang tersebut dengan memesan kopi kesukaannya. Siapa tahu dengan begitu seolah-olah orang itu hadir. Siapa tahu.
Yang beginian —hadir dan tidak hadir — kan kadang juga soal bagaimana kita mengimani saja.
Nah, lantas jadilah waktu itu, saya mengingat apa kopi kesukaannya. Kemudian meniatkan diri untuk memesan jenis kopi kegemaran orang-yang-sedang-saya-dambakan-hadir-itu.
Malam baru turun di ibukota. Belum lagi lama, baru pukul delapan. Terlalu sore bagi saya untuk kembali ke kamar sewa.
Maka, bulatlah niat mampir ke warung kopi di s…

Pengakuan

Gambar

Bunuh Diri

Gambar

Setelah Astrologi

Gambar

Seekor Anjing dan Bocah Penyeru

Gambar
Dari perempatan jalan menuju tempat saya bekerja di Kawasan Menteng, Jakarta, seekor anjing diikat pada tiang lampu taman. Pemiliknya sedang ngopi semeter dari anjing itu. Awalnya anjing putih berbulu lebat dan bertelinga seperti serigala tersebut tenang-tenang saja. Pun sang pemilik yang sedang asyik menyeruput cairan dari gelas plastik.
Hingga, kemudian gerombolan bocah usia belasan lewat.
"Hei ada Ahok, ada Ahok!" Seru salah seorang bocah berpakaian serba putih, dengan tangan kanan memegang tongkat kayu melebihi tingginya. Bocah penyeru itu lompat berputar-putar seraya menunjuk si anjing dan, ketawa kegirangan. Meski, tak ada yang lucu dari teriakan kecil itu.
Laku pertama lantas diikuti kawan lainnya, timbullah, suara-suara kecil bersahutan memanggil-manggil nama Ahok. Sang anjing yang diseru itu keruan tak menoleh sedikitpun.
Ahok, adalah panggilan bagi Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta--kota yang kebetulan saya tinggali. Belakangan, namanya begitu banyak diulang…

Bisa-bisanya

Gambar
Kadang saya benci dan muntab dan ingin mengumpat: telek kabeh, ketika ada manusia yang kebetulan dapat jatah menjadi Suku Jawa, lalu mereka menganggap seolah kastanya lebih tinggi dibanding yang lain, lebih beradab dan berotak. Padahal, PODHO WAE REK!!
Ya, memang tidak semua begitu, sebagian saja. Dan, nggak hanya Jawa sih. Ada kelompok-kelompok tertentu yang menganggap diri dan gengnya adalah pusat tata surya, sedang yang lain hanya embuh opo.
Tapi ya, karena kebetulan saya juga Jawa, dan kasus kali ini menyangkut pula kesukuan, maka begitulah adanya.
Suatu malam dalam perjalanan pulang ke Bojonegoro, saya menggunakan kendaraan bertarif ekonomi. Untuk buruh berpenghasilan pas-pasan seperti saya, harganya memang menolong. Kalau beruntung bisa dapat seratusan ribu lebih dikit.
Maka dengan tarif begitu, saya pun tak berharap dapat pelayanan bak kelas eksekutif atau bisnis.  Tapi tak lantaskarena hanya mampu membayar tarif yang demikian, manusia lain bisa berlaku seenaknya.

Kenyataannya, tak …